Trip Backpackeran Dari Banyuwangi – Ponorogo – Wonogiri | Day 1

Day 1, Menuju Ponorogo via Kareta Api

Libur akhir tahun sudah menunggu di depan mata. Rindu akan kegiatan travelling pun sudah menggebu-gebu dalam jiwa. apalagi rindu pada keluarga yang nun jauh disana. Iya, saat ini saya tinggal di Banyuwangi dengan seribu keelokannya, sementara nenek beserta beberapa keluarga saya berada di Ponorogo.

Hal ini membuat saya mendapatkan ide untuk pertama kalinya, saya ingin pergi kesana namun tanpa bersama Ayah dan Ibu saya. Tentu ini bukan tanpa sebab. Kesibukan orang tua, sekaligus usia saya yang sudah bisa dikatakan dewasa membuat saya tertantang untuk pertama kalinya melakukan travelling keluar kota tanpa ditemani orang tua.

Singkat cerita, saya langsung memesan tiket kereta api untuk jurusan Madiun. KA Sritanjung menjadi pilihan saya. Karena KA Sritanjung ini merupakan satu-satunya KA yang menghubungkan langsung Banyuwangi sampai terakhir Yogyakarta. Selain KA Sritanjung tidak ada, sebagian hanya sampai Surabaya Gubeng, sisanya menuju kota Malang.

Memesan tiket kini tidak hanya bisa dilakukan di Stasiun langsung. Bisa secara mandiri melalui internet, indomart, dan lain-lain. Beli secara mandiri via internet merupakan cara yang saya pilih. Selain bisa kita beli kapan saja, kita juga bisa memilih seat sesuka hati. Oh iya dalam travelling saya saat itu saya meminta sahabat saya Dimas Yoga untuk menemani saya. Alasannya simple, kita memang sudah kenal sejak lama dan hampir selama smp tepatnya kelas 3 kita mondar-mandir bersama karena kebetulan kita satu kelas les. Selain itu Yoga ini ternyata juga punya saudara di Ponorogo, jadi sekalian kita nanti akan bertamu ke saudara Yoga ini.

Bersama KA Sritanjung Bwi Baru – Lempuyangan Jogjakarta PP

Oke tiket kami pesan ,pembayaran kami lakukan via Indomart, dan beberapa hari setelahnya saya menukarkan nota pembelian dari Indomart ke stasiun pemberangkatan saya yaitu Kalistail. Hari H telah tiba, kami berangkat pagi-pagi sekali menggunakan sepeda motor. Sepeda motor kami inapkan di Stasiun sampai kita kembali lagi ke Banyuwangi.

KA diberangkatkan sesuai jadwal. Stasiun demi stasiun kami lewati. Sampai pada pertengahan perjalanan kami merasa lapar. Kalau dulu kita bisa beli pecel pada pedagang yang menjualnya melalui jendela saat KA berhenti, kini tidak semudah itu. Semua sudah ditertibkan, aturan ditetapkan. Gerbang restorasi menjadi dapurnya kereta api. Semua penumpang yang hendak membeli makanan bisa menuju ke gerbong restorasi. Disana segala menu makanan telah disiapkan, seluruh penumpang tinggal memesan.

Review Makanan di gerbong restorasi, Harganya Selangit! 😮

Lapar tak bisa ditahan lagi. Kami berdua memutuskan untuk segera pergi ke gerbang restorasi dan mencoba menu makanan yang ada disana. Membuka buku menu, mata berbelok ke kiri-kanan mencari menu yang pas. NASI GORENG. Kata tersebut terpampang nyata dalam daftar menu makanan. Tanpa pikir lama, saya pesan 2 nasi goreng. Seperti di warteg, es teh hangat menjadi minuman pendamping nasi goreng kali ini.

Setelah 20 menitan menunggu dan bersantai di gerbang restorasi yang cukup nyaman, pesanan kami datang. Nasi goreng yang sudah kami nantikan segera kami cicipi. Waktu itu perjalanan KA telah sampai disekitar kota Surabaya. Suasananya hujan di luar, dingin. Ka berjalan perlahan karena ada ruas rel yang banjir saat itu. Makan nasi goreng hangat, sambil memandang keluar langsung ke arah luar jadi suatu pengalaman tersendiri. Nyaman so pasti.

Nasi goreng habis kami lahap, kini teh manis hangat menjadi target kami berikutnya. Perlahan namun pasti teh kami santap. Benar-benar paket nyaman. Suasana hujan, dingin. Diatasi dengan nasi goreng hangat, ditutup dengan teh manis. Hmm, pengalaman yang wajib diulang di trip-trip berikutnya ketika menggunakan kereta api. Makan dan minum selesai, saatnya checkout mebayar semua kenyamanan yang kami dapatkan tadi. Uang 50rb saya siapkan, sebagaimana saya makan di warteg yang cukup dengan uang 30rb pasti sudah sisa. “Nasi goreng dan teh manis 2 ya mas, totalnya 64rb mas.” Tutur kasir yang ada di gerbang restorasi. Dengan hati yang seketika runtuh, bak sebuah harapan yang runtuh, saya masukkan kembali uang 50rb saya dan ku tukar dengan Soekarno-Hatta yang sebenarnya sulit untuk merelakannya.

Pikir saya dalam hati, bisa dibilang mahal sekali harganya. Padahal untuk porsinya tidak jauh beda dengan warteg sebelah rumah saya, begitu juga dengan rasanya. Otak saya tetap berfikir keras mencari tau hal apa yang membuat harganya mahal? Apakah rasanya? Porsinya? Atau jangan-jangan karena fasisilitas ekstra yaitu gerbong restorasi yang benar-benar nyaman dan bisa digunakan pembeli. Hmm bisa jadi. Tapi kalau untuk ukuran pelajar SMA seperti saya pada saat itu, harga segitu cukup membuat shock terapy pada jantung saya.

Setelah kenyang, cukup puas, namun isi dompet juga terhempas, kami kembali pada tempat duduk kita. Hari semakin sore, sampai akhirnya Stasiun Madiun yang menjadi tujuan kami disebutkan oleh kondektur yang meninformasikan bahwa beberapa menit lagi KA akan sampai di Madiun. Barang-barang kami turunkan, mencari-cari barang yang tertinggal, dan bersiap di depan pintu KA. KA Berhenti kamu pun turun dari KA. Tepat saat kami turun waktu sudah maghrib, tanpa pikir lama kami berhenti sejenak di mushola stasiun untuk sholat maghrib. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menggunakan becak menuju halte bis tujuan Ponorogo.

15 menit berjalan, kami sampai di halte. Suasana tetap sama seperti di Surabaya, hujan. Dengan sedikit kedinginan kami terus menunggu bis. Hampir 1 jam, tak satupun bis tujuan terminal Ponorogo lewat. Sempat ada pikiran untuk menggunakan jasa grab, namun lagi-lagi, harga menjadi pertimbangan kami. Akhirnya setelah sekian lama menunggu, yang ditunggu pun datang. Bis kecil sekelas dengan mikrolet pun lewat. Lampunya tak begitu terang, apalagi jalannya, mentok 40 km/jam. Bis tua yang tetap dipaksa oleh pemiliknya. Bukannya apa, hanya saja ini sudah malam, kami kedinginan, sudah menunggu lama, kenapa saat perjalanan menuju Ponorogo ditambah lebih lama lagi. Ya Tuhan, gumamku dalam hati.

1 jam kemudian kami sampai di Ponorogo. Langsung mencari tempat duduk, istirahat sebentar. Ternyata tak jauh beda dari ku, Yoga pun terlihat mengantuk, kelelahan. Namun perjalanan masih belum sampai disini. Ada satu perjalanan lagi yang harus kami selesaikan. Ojek! Ya dari terminal kami harus naik motor menuju desa nenek saya. Jaraknya tidak begitu jauh, mungkin sekitar 10km. Setelah nego sana-sini dengan beberapa ojek di terminal, kami berangkat dengan 2 motor. Setelah beberapa saat sampailah kami pada tempat yang kami tuju.

Dengan perasaan bangga saya mengetuk pintu rumah nenek saya yang tertutup “Assalamualaikum, kulo nuwun…” Dari dalam rumah nenek saya membalas “Mlebuo le nang, ra dikancing lawange” yang artinya “Masuk saja nang (panggilan anak pakdhe saya), nggak dikunci pintunya” Hmm, rupanya nenek saya ini mengira saya ini anak pakdhe saya. Tanpa menjawab apapun, saya langsung buka pintu dan menerobos masuk. Alangkah terkejutnya nenek saya. Tanpa kabar terlebih dahulu akan datang, saya yang dahulu datang kesini dengan orang tua kini berangkat sendiri. Jauh dari ujung timur pulau jawa, menuju Ponorogo.

“Lo tole omar t iki mau? Lo le kok tko kne to we le, kro sopo kowe mau ngger cah lanang? Byongalah gek adoh-adoh ko Banyuwangi, gek yo gur cah 2 mau le?” Tak henti-hentinya nenek saya tetap tidak percaya. Hmm, bangga bercampur senang. Bisa bertemu nenek. Ya walaupun hanya setahun 2 atau 1 kali. Tapi kali ini berbeda. Rasanya dewasa sudah di depan mata. Bisa mengerti bagaimana rasanya memegang uang pas-pasan, harus perhitungan sana-sini dalam membeli. Jika mengingat hari itu kembali, selalu kupanjatkan syukur pada Allah, atas segala ujiannya maupun kemudahannya. Bersambung.

Baca juga: “Tips Backpackeran Ke Kawah Ijen, Banyuwangi. Berburu Blue Fire Yang Gagal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *