Kisah Mati-Matian Tim Ekspedisi Everest Kopassus Indonesia Sampai Puncak Everest Atas Perintah Mayjen (TNI) Prabowo

Pratu Asmujiono saat mengibarkan bendera merah putih di puncak Everest.
Source: Kaskus.co.id

 Beberapa puluh tahun silam para prajurit Kopassus Indonesia berhasil menjadi orang pertama dari Asia Tenggara yang berhasil menggapai puncak Everest. Dibawahi langsung oleh Danjen Kopassus, Mayjen (TNI) Prabowo Subianto yang dimana saat itu masih menjadi anggota TNI, tim bentukannya berhasil menggapai puncak Everest. 

Sebelumnya misi ini digagas oleh Mayjen Prabowo. Yang mana pada saat itu Malaysia tengah bersiap mengirim pasukan militernya juga ke Everest. Prabowo tak mau ketinggalan, tidak ingin nama Indonesia menjadi nomor 2 dalam hal negara Asia Tenggara pertama yang mencapai puncak Everest. Sejak saat itu Prabowo membentuk tim ekspedisi Everest yang ditargetkan akan berangkat April 1997 mendahului rencana Malaysia yang akan berangkat pada juni 1997.

Seleksi personil dilakukan dengan melibatkan anggota dari Kopassus, Wanadri, Mapala UI, FPOK IKIP Jakarta, dan FPTI. Setelah beberapa kali terpilihlah 16 pendaki nekat yang bertekat menancapkan sang Saka Merah Putih di puncak Everest. Kemudian mereka dibagi menjadi 2 tim yaitu tim selatan dan tim utara. Hal ini dilakukan untuk mengangisipasi jika terjadi badai di jalur setalan maka tim utara masih bisa melanjutkan misinya begitupun sebaliknya.

Tim Selatan: Lettu Iwan Setiawan, Suparno, Praka Edy Waluyo, Sertu Misirin, Pratu Asmujiono, Pratu Darlin, Galih Donikara, Iwan Irawan, Ripto Mulyono, dan Sugiarto AR.
Tim Utara: Letda Sudarto, Serda Sunardi, Praka Daryowantoro, Praka Tarmudi, Rudi “Becak” Nurcahyo, dan Gunawan.
Mereka semua juga dibantu tim backup berjumlah 10 orang yang terdiri dari pelatih, sherpa, tim dokumentasi, dan dokter.

Sementara Anatoly Boukreev, Evgenie Vinogradsky dan Vladimier Baskhirov yang terkenal sang penakluk everest ditunjuk untuk melatih Tim dari Indonesia. Mereka ditunjuk bukan karena alasan, kenekatan mereka dan prestasi selama bergelut di dunia pendakian menjadi alasan Mayjen Prabowo menyewa mereka bertiga. Namun belakangan 1 bulan setelah Boukreev mengantarkan Indonesia ke puncak tertinggi dunia, Boukreev tewas saat mengantarkan pendaki dari Rusia ke puncak Everest.

Pada awalnya tim Ekspedisi Everest ini dilatih di markas besar Kopassus di Cijantung dan Gunung Gede Pangrango. Namun Mayjen Prabowo mengambil keputusan untuk langsung memindahkan latihan ke Katmandhu, Nepal karena waktu yang kian mepet. Keputusan ini juga bisa membuat proses adaptasi tubuh para anggota tim ini dari suasana tropis ke suasana salju yang sehari-hari berada dibawah suhu minus.

Singkat cerita selama 1 bulan di basecamp setiap harinya tim ekspedisi everest Indonesia ini dilatih untuk mendaki sampai pos 3 secara pertahap. Pada awalnya ditarget kan seluruh anggota tim harus menempuh hingga ketinggian 1000m lalu 2000m begitu seterusnya setiap hari berulang kali hingga 30 hari. Setelah itu baru pada April 1997 berangkatlah tim menuju puncak Everest.

Singkat cerita hanya ada 3 orang yang mampu sampai pos 4. Hanya Asmujiono, Misirin, dan Iwan Setiawan serta tim backup yang terdiri dari dokter dan pelatih. Sementara di tim utara saat akan melakukan summit attack terkendala badai yang memang sebelumnya sudah diprediksikan.

Saat perjalanan menuju puncak Sertu Misirin adalah orang yang pertama berhenti dan tidak kuat melanjutkan perjalanan. Anggota lain tidak punya alasan untuk membantu, karena untuk Kopassus misi utama adalah mengibarkan bendera Indonesia. “Saat itu pak Misirin udah tidak kuat apa-apa, teriak katanya penglihatannya sudah tidak terlihat dan histeris menyebut anak istri. Saat itu saya hanya kepikiran saya harus lanjut, sementara pak Misirin saya suruh untuk bertahan disini.” Pungkas Pratu Asmujiono

Perjalanan dari pos 4 meuju puncak Everest.
Source: Kaskus.co.id

Sementara Pak Iwan Setiawan terperosok ke jurang, namun dipastikan masih hidup saat itu. Dan lagi-lagi anggota lain tidak bisa menolong saat itu. Jika saja menolong, menurut Asmujiono mungkin semua anggota tim akan ikut terperosok dan misi dipastikan gagal. Saat akan melewati Hilarry Step, yang terkenal dengan nama Death Zone sebenarnya Asmujiono sudah disarankan pelatih untuk turun karena sudah terlalu malam. Mungkin bisa sampai puncak namun akan terlalu malam untuk waktu turun dan sangat beresiko terkena Hipotermia. Namun Pratu Asmujiono, yang merupakan anggota Kopassus sudah bersumpah sejak awal lebih baik pulang nama, daripada pulang gagal misi.

Saat itu hanya tersisa Pratu Asmujiono dan terus melanjutkan. Pada akhirnya hanya 1 pelatih yang menemani Asmujiono sampai puncak. Pada 15.40 waktu setempat Asmujiono berhasil sampai puncak. Beberapa waktu kemudian disusul sang pelatih. Pratu Asmujiono saat itu mengibarkan 2 bendera merah putih, dan menyanyikan lagu padamu negeri. Hal yang paling sulit dipercaya adalah Pratu Asmujiono memaksa melepas kacamata dan oksiden di ketinggian lebih dari 8.848 meter. Saat itu hanya hitungan detik, dan hanya kalimat “Allahuakbar, Komando!” yang mampu diucapkan Asmujiono.

Pratu Asmujiono saat mengibarkan bendera merah putih di puncak Everest.
Source: Kaskus.co.id

Belum sampai disitu akhir cerita. Pada saat perjalanan turun justru kali ini ganti Asmujiono yang jatuh dan hilang ke jurang. Pada saat itu menurut Misirin dan Iwan Setiawan mereka bersama teriak-teriak sambil histeris karena Asmujiono sudah tidak terlihat. Menurut Asmujiiono sendiri setelah dia jatuh dia pingsan dibatu berukuran satu meter. Dan baru pada pagi hari ia tersadar. Merupakan sebuah keajaiban yang bisa dikatakan mustahil dalam dunia medis. Bayangkan, diketinggian 8000 lebih, dengan tekanan udara yang esktrem, suhu minus, tidak sadarkan diri selama 1 malam.

Menurut Asmujiono saat dia sadar, penghilatannya sudah tidak normal. Hanya putih yang terlihat. Saat itu saat perjalanan turun lubang jejak dari Misirin, Iwan, dan Pelatih yang turun lebih dulu ia jadikan pedoman jalan untuk turun. Sampai akhirnya tiba-tiba Asmujiono menabrak Misirin dari belakang. Akhirnya mereka bergabung dan turun bersama sampai ketinggian 8.600 meter yang sebelumnya sudah disiapkan emergency camp. Di camp ini hanya tersedia 1 tenda, yang akhirnya digunakan untuk 6 orang selama semalam. Saat itu logistik sudah habis, oksigen tersisa hanya milik Asmujiono. Menurut Asmujiono saat itu 3 anggota Kopassus termasuk dirinya selama semalam histeris, kejang, karena sudah 3 malam tanpa kemasukan air dan saat itu bergantian menggunakan oksigen.

Menurut Asmujiono pada saat itu dokter merupakan penyelamat baginya. Dokter dengan sabar dan lincah merawat 3 orang Kopassus ini. Saat itu yang bisa dilakukan hanya memasak air yang ketika mendidih harus cepat diminum karena begitu diangkat dari kompor air langsung membeku. Hal inilah yang menjadi penyebab Asmujiono sudah 3 hari tidak minum air karena botol yang dibawanya tidak mempu menahan suhu Everest. Hal tersebut berlangsung sampai pagi. Paginya baru mereka mendapat kiriman logistik dari basecamp dan melanjutkan perjalanan turun sampai pos 4. Barulah di pos 4 seluruh logistik tersedia dan semua kembali normal sampai perjalanan turun menuju basecamp.

Sampai basecamp Asmujiono menjadi yang pertama sampai. Disana dia diwawancai oleh puluhan media dan pendaki. Ditanya mengenai perlengkapan, logistik, dan kunci rahasianya bisa sampai puncak dan turun dengan selamat bersama seluruh anggota tim. Menurut Asmujiono perjalanan Kopassus ini hanya kebesaran Tuhan yang berperan besar didalamnya. Banyak kejadian sepanjang perjalanan yang sebenarnya secara logika tidak bisa terjadi namun ternyata bisa. Dan Asmujiono juga menyampaikan, prestasi ini bukan prestasi Kopassus semata, namun juga bangsa Indonesia. Kopassus, Komando!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *