Tips Backpackeran ke Kawah Ijen Banyuwangi. Berburu Blue Fire Yang Gagal! - CarrierStory

Tips Backpackeran ke Kawah Ijen Banyuwangi. Berburu Blue Fire Yang Gagal!

by - Sabtu, Desember 08, 2018
Tips ke Kawah Ijen Banyuwangi
Tips ke Kawah Ijen Banyuwangi
Tips ke Kawah Ijen Banyuwangi
Sudah hampir sepuluh tahun lebih hidup di Banyuwangi, tapi belum sekalipun berwisata ke kaki di kawah Ijen, hmm hambar rasanya. Hal itu yang membuat saya memotivasi diri untuk mencoba mendaki ke Kawah Ijen. Apalagi dari hari ke hari Ijen semakin populer. Dengan ikon populernya Blue Fire yang hanya ada dua di dunia yaitu di Islandia dan di Indonesia tepatnya di Kawah Ijen, Banyuwangi. Oke gak pakek lama kita langsung ke pendakian.

Berangkat Jam 20.00 WIB

Saya jadwalkan saya akan berangkat malam hari dengan tujual awal saya adalah Paltuding yang menjadi basecamp utama pendakian Kawah Ijen. Saya berangkat dari rumah pukul 20.00 Wib. Tentu waktu ini saya pilih karena rumah saya yang berada di Kabupaten Banyuwangi. Untuk anda yang menginap di homestay atau hotel di sekitaran Banyuwangi Kota bisa berangkat lebih malam agar tidak berlama-lama menunggu saat di Paltuding karena jalur pendakian baru dibuka pukul 01.00 Wib atau bisa berangkat lebih sore seperti saya asal bawa tenda untuk istirahat tidur terlebih dahulu.

21.30 Sampai di Kec. Licin, rehat sejenak berburu nasi goreng

90 menit berkendara pada malam hari cukup untuk membuat perut saya kembali lapar. Saya putuskan saat itu untuk berhenti sejenak disekitar Kecamatan Licin untuk berburu nasi goreng pinggir jalan sekaligus mendinginkan mesin motor matic saya karena setelah ini rute menuju basecamp Paltuding akan nanjak terus.

21.50 kami berangkat melanjutkan perjalanan menuju Paltuding

Berjalan naik menuju Paltuding. Suasana asli Ijen mulai terasa dari desa Licin. Dingin, berkabut tipis saat malam hari. Sekitar 20 menit berjalan saya sampai di Pos Jambu Rest Area. Disini kami harus membayar sejumlah uang untuk biaya retribusi desa. Sedikit tips dari saya, ketika sampai disini akan banyak penjual aksesoris/alat dingin seperti sarung tangan, syal, dll. Bagi anda yang belum bawa silahkan beli, karena ketika sudah sampai di pos Paltuding akan ada perbedaan harga untuk barang yang sama. Setelah beres mengurus pembayaran kita lanjut perjalanan. Oh iya, rest area ini merupakan areal perkampungan terakhir dalam perjalanan menuju kawah ijen, setelah itu rute jalanan hanya berupa hamparan sawah dan hutan lebat.

22.10 lepas rest area jambu, fight to Paltuding

Selepas dari rest area, skill berkendara kami cukup di uji. Hujan gerimis datang, dingin pasti. Ditambah dengan jalanan yang semakin ke atas semakin curam. Saat itu kami yang hanya berdua 1 motor sangat beruntung bertemu rombongan pendaki yang juga akan ke Ijen. Karena selepas rest area ini rute hanya berupa hamparan sawah dan hutan, dengan penerangan yang terbatas. Oke saya bersama rombongan pendaki ini berangkat. Tikungan per tikungan kami lewati, hujan gerimis semakin ke atas semakin tambah intensitasnya. Kabut kian tebal.

22.37 Salah satu pendaki dari rombongan mengalami kecelakaan

Aspal baru yang masih mulus, hujan yang membuat aspal licin, serta medan yang menanjak membuat salah satu pengendara dari rombongan mengalami kecelakaan. Ternyata mereka menggunakan sepeda Vixion yang sudah dimodifikasi dengan ban cacing/kecil. Alhasil ini menjadi penyebab mereka kecelakaan. Diketahui saat menanjak pasti beban berat tubuh kita akan cenderung ke belakang, sementara ban depan yang sudah diganti dengan ban cacing tadi jadi tidak bisa grip ke aspal dan sudah pasti akan wheelie atau metek bahasa jawanya. Beruntung dua orang ini tidak kenapa-kenapa, hanya beberapa goresan kecil. Mereka memutuskan melanjutkan perjalan, begitu juga kami.

23.05 Sampai di Paltuding, Kawah Ijen.

Setelah berjuang melawan dingin, hujan, kabut, serta diwarnai beberapa insiden kecil sampailah kami di Basecamp Paltuding, Ijen. Ada sederet toko yang menjual makanan disana. Selain itu juga di beberapa toko menyediakan semacam angkringan untuk tempat istirahat para pendaki secara gratis. Ada hal yang unik di toko-toko di Paltuding ini. Dimana disetiap halaman toko ada perapian semacam api unggun. Kami parkir motor, setelah itu membeli beberapa snack untuk bekal pendakian dini hari nanti. Beres belanja, kami menuju camping ground dan mendirikan tenda. Tempatnya berada di tanah lapang. Tips: Buat kalian yang mau mendidikan tenda, saya sarankan bawa sleeping bag, karena suhu disini dingin sekali. Tenda enggak cukup untuk melindungi kalian dari hawa dingin. Bahkan alas tenda kami rasanya seperti basah, padahal ketika dipegang kering bersih. Selesai set-up tenda, kami putuskan untuk istirahat tidur sejenak dan berenca mulai submit jam 01.00 tepat.

Bangun, dan bersiap untuk pendakian, tapi.....

Kami bangun dan langsung membereskan peralatan. Kami putuskan untuk bongkar tenda saat itu juga karena setelah turun nanti kami berencana langsung bergegas turun dan menuju Banyuwangi Kota. Oke sebelumnya ada hal yang mengejutkan disini. Sebelumnya kami berencana submit jam 01.00 tepat setelah pendakian dibuka untuk memburu blue fire, tapi apa? Kami baru bangun jam 02.00. Dan baru melakukan pendakian jam 02.30. Yah penyakit pendaki kebanyakan, susah untuk bangun tidur kalau sudah di gunung, hehehe.

02.30 Registrasi, lalu mendaki Kawah Ijen

Menuju pos pertama pendakian bisa dikatakan enteng karena medan yang masih landai. Vegetasi lumayan lebat namun masih cukup terlihat hamparan bintang di langit. Oke sampai di pos pertama, mulai banyak tanjakan. Medannya tanah berpasir halus. Dari sini mulai terlihat banyak para jasa troli Ijen. Alat nya memang mirip troli ceper, nantinya pendaki yang menggunakan jasa ini akan menaiki troli ini dan didorong oleh 2, yang satu mendorong sekaligus menjadi supir, sementara yang satu berada di depan membantu menarik troli. Biayanya berkisar antara 100rb sampai 150rb, tentu ini harga untuk warga lokal Indonesia, sementara untuk bule tentu akan lebih tinggi. Yah, sesuai postur tubuh orang luar negeri yang besar dan tinggi mungkin.

Sepanjang jalur terdapat banyak sekali pos-pos yang berupa bangunan. Namun  entah memang belum berfungsi atau gimana, keberadaan pos-pos ini sedikit kurang efektif. Posnya cukup kotor, berdebu, dan biasanya hanya digunakan untuk berhenti sejenak untuk duduk oleh para pendaki, setelah itu mereka akan melanjutkan perjalanan lagi.

04.35 Separuh perjalan, batas vegetasi terakhir Kawah Ijen

Tips ke Kawah Ijen Banyuwangi
Tips ke Kawah Ijen Banyuwangi

Dari sini mulai terlihat kegagahan beberapa gunung seperti Gunung Ranti yang berdiri tegak di samping Ijen, selain itu jika langit sedang cerah, hamparan bintang dan milkyway akan terlihat jelas dari sini. Oh iya area ini juga menjadi penanda batas vegetasi, setelah itu sampai puncak kita hanya akan melihat hamparan bintang yang indah.

05.15 Finally sampai di puncak Kawah, Ijen

Tips ke Kawah Ijen Banyuwangi
Tips ke Kawah Ijen Banyuwangi
Oke setelah perjalanan hampir 3 jam, sampailah kami di puncak. Terlihat beberapa kerumunan sudah berada di atas. Saat itu hari minggu, suasana sangat full ramai wisatawan. Di pinggiran kawah terdapat pagar yang merupakan batas pengaman untuk wisatawan. Sebenarnya pendakian masih bisa dilanjutkan ke atas untuk ke puncak yang biasanya digunakan fotografer untuk dijadikan spot foto landskap.
Tips ke Kawah Ijen Banyuwangi
Tips ke Kawah Ijen Banyuwangi


Tips ke Kawah Ijen Banyuwangi
Tips ke Kawah Ijen Banyuwangi

Puas berfoto ria, kembali turun menuju Paltuding

Jika kalian mengira perjalanan turun akan lebih mudah di Ijen, itu salah besar! Medan yang berupa tanah padan dan berpasir halus membuat perjalanan begitu sulit karena licin sekali. Saya sendiri terjatuh di jalur sampai 3x, tak jarang pula para pendakian lokal yang berusia dewasa terpeleset. Bahkan bule-bule yang punya postur tubuh tinggi dan besar juga tak luput menjadi korban. Yang paling parah ada yang sampai kakinya kesleo dan harus dinaikkan troli. Cukup sekitar 45 menit perjalanan kami sampai di Basecamp dan bersiap untuk kembali ke Banyuwang Kota.

Tips ke Kawah Ijen Banyuwangi

Untuk kalian wisatawan dari luar Banyuwangi yang berminat ke Ijen. Bisa menggunakan pesawat jika dari Jakarta atau Surabaya langsung menuju Bandara Banyuwangi Baru. Atau untuk yang lebih ekonomis bisa menggunakan Kerata Api dan turun di Stasiun Karangasem. Setelah itu bisa menggunakan jasa ojek, untuk biayanya saya kurang tau yang pasti sedikit mahal karena jarak yang masih jauh dari Banyuwangi Kota ke Paltuding serta medan yang berupa tanjakan. Atau opsi lainnya bisa menyewa sepeda motor di beberapa homestay yang menyediakan.

Jangan lupa untuk membawa alat dingin seperti jaket, sarung tangan, syal, dll. Berangkat ke Paltuding pada malam hari seperti saya tadi merupakan ide yang bagus, jangan lupa untuk membawa tenda atau jika kalian nggak mau ruwet bisa berangkat dini hari menuju paltuding agar sampai di paltuding nanti tepat saat pendakian sudah dibuka dan bisa langsung mendaki.

Jangan lupa makan sebelum melakukan pendakian (Penting). Kelihatannya sepele, karena medan kawah Ijen yang bisa terbilang landai dan mudah bukan berarti kita bisa menyepelakan. Di jalur sempat saya melihat beberapa pendaki terutama perempuan muntah-muntah. Kebanyakan mereka masuk angin karena enggak kuat dengan suhu Ijen yang dingin + perut kosong. Dan terpaksa harus turun demi safety.

Lalu untuk kalian yang berkendara bermotor menuju Paltuding, usahakan pakai motor matic minimal Beat tahun 2014 ke atas atau lebih baik pakai motor sport seperti Vixion tapi jangan dimodif ban cacing ya, hehehe. Dibawah itu mungkin masih bisa tapi tidak direkomendasikan. Dan saat melalui tanjakan coba untuk condongkan badan agak ke depan untuk menambah grip ban depan menghindari wheelie pada motor. Saat motor enggak kuat untuk menanjak coba untuk berjalan zigzag namun juga perhatikan kondisi lalu lintas dari lawan arah. Usahakan saat keluar dari rest area menuju Paltuding kondisi mesin masih adem, atau kalau masih panas bisa istirahat dulu. Karena butuh power banget karena banyak tanjakan yang masih terjal di Ijen.

Saat turun dari Paltuding menuju Banyuwangi Kota jangan sekali-sekali mencoba mematikan mesin. Mematikan mesin malah membuat motor semakin enteng untuk meluncur saat jalan menurun. Sempat ada kasus remaja yang turun dari Ijen mematikan mesin motornya, bukannya menghemat bensin tapi malah rem blong yang akibatnya pengendara itu sendiri meninggal dunia sementara yang dibonceng selamat. Tetap hidupkan mesin, jadikan rem belakang rem utama dan rem depan sebagai pembantu. Jangan terlalu banyak menggunakan rem depan karena bisa membuat cakram cepat panas dan rem blong. Jika dirasa cakram rem panas bisa istirahat terlebih dahulu, jangan, jangan mengambil resiko.

Oke, cukup sekian dulu cerita pengalam saya kali ini. Bagi siapapun kalian yang ingin berkunjung ke Ijen atau wisata Banyuwangi lainnya dan ingin bertanya-tanya silahkan komentar di bawah. Akan saya bantu sebisa mungkin, karena kebetulan domisli saya di Banyuwangi. Sekian, have a nice day everyone.

You May Also Like

0 komentar